Latest Entries »

Sriwijaya Post – Sabtu, 12 Januari 2013 14:40 WIB
SRIPOKU.COM, SURABAYA – Berprofesi sebagai aparat penegak hukum bukan jaminan untuk tidak melakukan tindak kriminal.
Buktinya, dua oknum polisi kini tengah diamankan Provost Polda Jawa Timur karena terbukti terlibat perampokan uang tunai senilai Rp 90 juta.
Keduanya adalah Aiptu S (48), yang juga warga Perum Sambong Permai, Desa Sambong Dukuh, Jombang, dan Briptu TC (26) warga Desa Balongsari, Kecamatan Megaloh, Jombang.
Aiptu S, malah tercatat sebagai Kepala Unit Reskrim Polsek Megaluh, Polres Jombang.
“Keduanya sudah ditahan dan kini masih diperiksa provost,” kata Kasubdit Penmas Polda Jatim, AKBP Suhartoyo, Sabtu (12/1/2012).
Keduanya, kata Suhartoyo, merampok bersama enam pelaku lain yang kini juga sudah diamankan.
Tugas kedua oknum polisi itu saat perampokan hanya sebagai pengawas lokasi perampokan di Jalan Raya Panglima Sudirman depan Pabrik Gula Jombang Baru Kecamatan Jombang, awal Januari lalu.
Korbannya adalah Abdul Rokhim yang mengendarai mobil Daihatsu Xenia perak W 5152 XQ. Korban dieksekusi saat melintas di kawasan tersebut.
Dia tiba-tiba dihadang enam pelaku yang mengendarai Daihatsu Xenia hitam dan Daihatsu Terios hitam W 427 BI.
“Salah satu pelaku menodong menggunakan senjata api, kemudian merampas tas yang berisi uang Rp 90 juta. Korban lalu ditinggal tanpa dilukai,” kata Suhartoyo.
Semua pelaku, kata Suhartoyo ditangkap beberapa hari setelah kejadian di berbagai daerah. Sementara keenam pelaku warga sipil adalah, AH (32) warga Kecamatan Diwek, Jombang, M (57) warga Kecamatan Srengat Blitar, IS (44) warga Kecamatan Ngoro Jombang, AA (35) warga Kecamatan Diwek Jombang, EP (36)warga Kecamatan Genteng Banyuwangi, NDL (51) warga Kecamatan Sukorejo, Blitar.

 

Editor : Sudarwan

Iklan

Pengolahan Data Elektronik

Pengolahan data menggunakan komputer dikenal dengan nama Pengolahan Data Elektronik atau Electronic Data Processing (EDP). Data adalah kumpulan kejadian yang diangkat dari suatu kenyataan. Pengolahan data (data processing) adalah manipulasi dari data ke dalam bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti, berupa suatu informasi. Informasi (information) adalah hasil dari pengolahan data dalam bentuk yang lebih berarti. Jadi Pengolahan Data Elektronik atau Elektronic Data Processing adalah proses manipulasi data ke dalam bentuk yang lebih berarti berupa informasi dengan menggunakan suatu alat elektronik yaitu komputer.

Pengolahan data elektronik memiliki siklus, siklus pengolahan data elektronik terdiri dari tiga tahapan dasar yaitu : Input, Processing, Output.

pengolahan data elektronik

Kemudian dikembangkan lagi dengan menambahkan tiga atau lebih tahapan lagi yaitu : Origination, Storage, Distribution.

pengolahan data elektronik1

Adapun penjelasan masing-masing tahap adalah sebagai berikut :

  • Origination : tahap ini berhubungan dengan proses pengumpulan data.
  • Input : tahap ini merupakan proses memasukkan data ke dalam proses komputer.
  • Processing : tahap ini merupakan proses pengolahan dari data yang sudah dimasukkan yang dapat berupa proses menghitung, membandingkan, mengklasifikasikan, mengurutkan, mengendalikan atau mencari di storage.
  • Output : tahap ini merupakan proses yang menghasilkan output dari pengolahan data berupa informasi.
  • Distribution : tahap ini merupakan proses distribusi output kepada pihak yang berhak atau membutuhkan informasi.
  • Storage : tahap ini merupakan tahap perekaman atau penyimpanan hasil pengolahan data. Hasil pengolahan data yang telah tersimpan di storage (simpanan luar) dapat dijadikan input untuk proses pengolahan data selanjutnya.

RUKUN-RUKUN AGAMA (IMAN, ISLAM DAN IHSAN)

Firman Allah Taala, maksudnya: “Sebenarnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, sesungguhnya Kami tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berusaha memperbaiki amalnya.” (30, Al-Kahf).

“Bahkan sesiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah (mematuhi perintah-Nya) sedang ia pula berusaha memperbaiki amalnya maka ia akan beroleh pahala di sisi Tuhannya ..” (112, Al-Baqarah).

“Untuk orang-orang yang berusaha memperbaiki amalnya, dikurniakan segala kebaikan serta satu tambahan yang mulia ..” (26, Yunus).

Hadis Ketiga Belas

13عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ. (مسلم)

13 – Dari Umar bin Al Khattab r.a., katanya: Pada suatu hari, dalam masa kami sedang duduk di sisi Rasulullah s.a.w, tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki:  Putih melepak pakaiannya, hitam legam rambutnya, tidak kelihatan padanya tanda-tanda perjalanan (sebagai seorang pengembara), dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalinya; (demikianlah halnya) sehinggalah ia duduk mengadap Nabi s.a.w. lalu ia menemukan kedua lututnya kepada kedua lutut Baginda sambil meletakkan kedua tapak tangannya atas kedua pahanya serta berkata:  “Wahai Muhammad! Beritahulah kepada ku tentang (dasar-dasar) Islam(1)?” Maka Rasulullah s.a.w. menerangkan:  “(Dasar-dasar) Islam itu ialah engkau melafazkan kalimah syahadat (meyakini serta menerangkan kebenaran) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Nabi Muhammad ialah pesuruh Allah dan engkau mendirikan sembahyang dan memberi zakat serta berpuasa pada bulan Ramadan dan juga engkau mengerjakan Haji ke Baitullah jika engkau mampu sampai kepadanya.” (Mendengarkan penerangan Baginda yang demikian) ia berkata:  “Benarlah apa yang tuan katakan itu!” Kata Umar: Maka kami merasa hairan terhadap orang itu – ia bertanya kepada Baginda dan ia juga mengesahkan benarnya (sebagai seorang yang mengetahui perkara yang ditanyakannya itu). Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahulah kepada ku tentang iman(2)?” Nabi s.a.w. menerangkan:  “(Iman itu ialah) engkau beriman kepada Allah,  Malaikat MalaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, serta Hari Akhirat; dan engkau beriman kepada takdir (yang ditentukan oleh Allah) – baiknya dan buruknya.” (Mendengarkan yang demikian) ia berkata: “Benarlah apa yang tuan katakan itu.” Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahulah kepada ku tentang ihsan(3)?” Nabi s.a.w. menerangkan: “(Ihsan itu ialah) engkau mengerjakan ibadat kepada Allah Taala seolah-olah engkau melihatNya (memerhatikan keadaanmu)(4), kiranya engkau tidak dapat melakukan yang demikian maka ingatlah bahawa Allah Taala tetap memerhatikan keadaan mu.” Kemudian orang itu bertanya lagi: “(Selain itu) maka beritahulah kepada ku tentang (masa berlakunya) hari qiamat?” Nabi s.a.w. menjawab:  “Orang yang ditanyakan mengenai hal itu bukanlah seorang yang lebih mengetahui dan yang bertanya.” Orang itu bertanya lagi: “Jika demikian maka beritahulah kepada ku tentang tanda-tanda kedatangan hari qiamat itu?” Nabi s.a.w. menerangkan: “(Tanda-tanda itu ialah engkau akan dapati) adanya hamba perempuan yang melahirkan anak yang menjadi tuannya dan engkau akan melihat orang-orang (penduduk desa) yang berkaki ayam, yang tidak berpakaian sempurna,  yang miskin menderita, yang menjadi gembala kambing bermegah-megah dan berlawan-lawan antara satu dengan yang lain dalam perkara membina bangunan-bangunan yang tinggi. ” Umar berkata: Kemudian orang itu pun pergilah, maka tinggallah aku beberapa hari (memikirkan halnya dan hendak mengetahui siapa dia).

Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepadaku, sabdanya: “Wahai Umar! Tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?” Aku menjawab:  “Allah dan RasulNya jualah yang mengetahui. “

(Pada saat itu) Rasulullah s.a.w. menerangkan: “Orang itu ialah Jibril, ia datang untuk mengajar kamu akan agama kamu.”

(Muslim)

________________________________

(1) “Islam” di sini ialah dengan pengertian yang kedua yang telah diterangkan pada bab yang ketiga.

(2) “Iman” bererti:
Pertama – Percayakan benarnya sesuatu yang tertentu serta sanggup mematuhi apa yang dikehendaki oleh
kepercayaan itu.
Kedua – Segala
jenis amalan taat – hasil dari kepercayaan dan kesanggupan itu.
Ketiga – Perkara-perkara yang diimankan itu; dan iman dengan erti inilah yang dikehendaki di sini.

(3) “Ihsan” di sini maksudnya: Cara mengerjakan sesuatu taat – terutama amal ibadat – dengan sebaik-baiknya, lengkap segala peraturannya serta dengan ikhlas kepada Allah Taala.

(4) Yakni hendaklah engkau lakukan amal ibadat atau taatmu kepada Allah s.w.t. dengan keadaan seolah-olah engkau nampak Ia melihat dan memerhatikan zahir batinmu. kiranya engkau tidak dapat mencapai keadaan itu maka hadirkanlah keyakinanmu bahawa Allah Taala tetap melihat dan memerhatikan mu kerana sesungguhnya Ia sentiasa melihat dan memerhatikan segala keadaanmu.

Hadis yang ketiga belas ini menerangkan:

(1) Ada kalanya Malaikat pembawa Wahyu – Menyamar diri sebagai seorang manusia.

(2) Iman,  Islam dan Ihsan.

(3) Tanda-tanda kedatangan Qiamat.

Huraiannya:

Pertama – Malaikat Jibril (a.s) ada kalanya menyamar sebagai seorang manusia:

Pada suatu hari, sedang Rasulullah s.a.w dihadapi oleh sahabat-sahabatnya, tiba-tiba datanglah seorang lelaki seperti yang diterangkan dalam hadis ini, lalu bertanya tentang perkara-perkara agama.  Apabila Baginda menjawab pertanyaannya, ia segera mengesahkan benarnya. Ini menjadikan sahabat-sahabat Baginda hairan memikirkan halnya, dia bertanya dan dia pula mengesahkan kebenaran jawapan Baginda.

Kehairanan sahabat-sahabat Nabi itu hilang apabila Baginda sendiri menerangkan pada akhirnya bahawa yang bertanya itu ialah Malaikat Jibril (as.).

Soal Wahyu:

Wahyu adalah satu perkara pokok yang menjadi dasar bagi segala perkara agama.  Orang yang tidak mempercayai wahyu,  sudah tentu tidak ada kepercayaannya kepada Rasul-rasul utusan Allah, Kitab-kitabNya dan lain-lain lagi yang berhubung dengan iman. Ada orang yang percaya, bahawa junjungan kita Muhammad s.a.w.  seorang pemimpin yang bijak. Jika setakat itu sahaja kepercayaannya terhadap Baginda maka itu belum cukup, selagi dia tidak mempercayai bahawa kebijaksanaan Baginda itu – selain daripada sifat semula jadinya yang istimewa, Baginda pula mendapat wahyu dan pimpinan dan Allah Azza wa Jalla. 

Kedua – Iman,  Islam dan Ihsan berkaitan satu sama lain:

Di antara perkara-perkara yang ditanyakan kepada Rasulullah s.a.w. ialah soal Iman, Islam dan Ihsan, lalu dijawab oleh Baginda satu persatu. Walau pun pertanyaan itu dibuat satu-satu dengan berasingan, tetapi ketiga-tiganya merupakan satu hakikat jua, iaitu “Agama”. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. pada akhir hadis ini bahawa yang bertanya itu ialah Malaikat Jibril, datangnya untuk mengajar mereka akan “Agama” mereka.

Jelasnya, “Agama” itu jika dipandang dan segi amalan-amalan zahir disebut dengan nama “Islam”; jika dipandangi dari segi kepercayaan dan keyakinan hati disebut dengan nama “Iman”; dan jika dipandang dan segi kesempurnaan cara pelaksanaan dua perkara itu disebut dengan nama “Ihsan”.

Tiga perkara yang dipandang dari segi-segi yang berlainan itu tidak harus berpisah antara satu dengan yang lain.

“Agama” itu adalah ibarat sebatang pohon, – Akar umbinya serta usul asalnya bahkan benihnya ialah “Iman”; dan seluruh pohon itu meliputi batangnya, dahannya, rantingnya, daunnya, bunganya dan buahnya ialah “Islam”; manakala kesuburannya, keharumannya, kemanisannya dan seluruh keindahannya ialah “Ihsan”.

Dengan huraian ini nyatalah salahnya orang yang menganggap bahawa Iman, Islam dan Ihsan boleh berasingan antara satu dengan yang lain; dan lebih-lebih lagi salahnya orang yang menganggap bahawa Ihsan itu boleh ada atau dapat dilaksanakan dengan ketiadaan Iman dan Islam, kerana ihsan itu ialah sifat bagi keduanya dan sememang maklum bahawa “Sifat” tidak boleh ada dengan ketiadaan “Mausuf” (perkara yang disifatkan).

Islam dan Asasnya yang lima:

Sebagaimana yang telah diterangkan bahawa salah satu dan pengertian “Islam” itu ialah hukum-hukum dan keterangan-keterangan yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w.  dan Allah `Azza wa Jalla.

Hukum-hukum dan peraturan yang tersebut, yang terdiri dari suruh dan tegah,  meliputi segala bidang hidup umat manusia.

Islam yang demikian sifatnya, berasaskan lima perkara – sebagaimana yang diterangkan oleh Baginda dalam hadis mi.

Dari lima asas inilah terbit dan kembali kepadanya segala hukum dalam setiap keadaan umat manusia – dalam alam kehidupan ini.

Asas-asas Islam yang lima itu ialah:

Pertama – Mengakui kebenaran tiap-tiap perkara yang benar dan melafazkan “Kalimah At-Taqwa”:

Di antara syarat-syarat bagi mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat ialah menghormati kebenaran setiap perkara yang benar,  dengan jalan mengakui dan mengamalkannya. Ini dengan sendirinya mewajibkan menolak kesalahan tiap-tiap perkara yang salah.

Oleh kerana sebenar-benar perkara yang benar ialah keesaan Allah Taala Tuhan yang wajib Al-Wujud dan kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., maka mengucap dua kalimah syahadat: 

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

– Yang ertinya: “Aku meyakini serta menerangkan kebenaran,  bahawa sesungguhnya tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Nabi Muhammad ialah pesuruh Allah” adalah menjadi asas atau “Rukun Islam” yang pertama bahkan menjadi anak kunci bagi seseorang masuk Islam.

Tiap-tiap orang Islam dituntut melafazkan “Kalimah Al-Taqwa” dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalimah Al-Taqwa” itu ialah tiap-tiap tutur kata yang memelihara dan menyelamatkan seseorang dan tiap-tiap perkara yang membahayakannya serta mendatangkan manfaat dan kebahagiaan, sama ada di dunia mahu pun di akhirat dan semulia-mulia “Kalimah At-Taqwa” itu ialah:

لا إِلَهَ إِلا الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله

Kedua – Menggunakan segala anggota berusaha dan mengerjakan dengan cara yang teratur akan amal-amal bakti sama ada yang diwajibkan atau yang digalakkan untuk diri dan masyarakat, bagi mengenang budi dan mensyukuri nikmat-nikmat,  dengan harapan mencapai kebaikan dan menjauhkan perkara-perkara yang merosakkan, serta dengan sepenuh-penuh kesedaran mengingati Allah dan berdoa kepadaNva memohon taufik dan hidayah-Nya ke jalan yang diredhai-Nya.

Semuanya itu terdapat dalam “Sembahyang”, dan dengan ini nyatalah hikmatnya sembahyang itu menjadi asas atau “Rukun Islam” yang kedua, dan dengan ini juga nyatalah tepatnya sabda Nabi s.a.w. yang maksudnya: “Sembahyang itu tiang agama,  sesiapa yang meninggalkannya maka sesungguhnya ia telah meruntuhkan agama.”

(Untuk penjelasan yang lebih lanjut mengenai sembahyang, lihatlah lampiran “B”, pada akhir bab ini).

Ketiga – Berkorban dengan Harta Benda:

Harta benda adalah merupakan asas bagi segala urusan hidup dalam dunia ini.  Oleh itu maka sebahagian besar dan daya usaha manusia dicurahkan untuk mencari dan memiliki harta benda dan kekayaan.  Tetapi bukan semuanya berhasil mencapai kesenangan dan kemewahan itu dengan sepenuhnya, bahkan bukan sedikit – dari setiap bangsa di dunia ini – yang hidup miskin dan menderita.

Dengan yang demikian, maka membelanjakan harta benda untuk menolong orang-orang yang fakir miskin dan yang memerlukan bantuan, dan juga untuk kebajikan Islam – sebagaimana yang terdapat dalam amalan “Zakat” – adalah menjadi satu cara hidup yang aman makmur

Oleh itu, maka nyatalah hikmatnya kewajipan mengeluarkan zakat itu menjadi salah satu dari asas atau “Rukun Islam”.

Keempat – Membendung kemahuan hawa nafsu: 

Sebahagian besar dari kejadian kacau bilau yang berlaku dalam sesebuah masyarakat adalah akibat dari runtunan hawa nafsu yang buas liar dan melampaui batas,  sehingga ada yang melupai kehormatan din dan rumahtangga, mencuaikan tugas dan kewajipan,  mengkhianati amanah dan berbagai-bagai perkara jenayah lagi.

Oleh itu, maka kewajipan menyekat hawa nafsu dan menentang runtunan liarnya, serta melarih diri mengingati pengawasan Allah Taala akan segala yang zahir dan yang batin – sebagaimana yang terdapat dalam amalan “Puasa” – adalah menjadi satu cara hidup yang aman sentosa. 

Dengan yang demikian, maka nyatalah hikmatnya ibadat puasa itu menjadi salah satu dari asas atau “Rukun Islam”.

Kelima – Menghadiri tempat-tempat perhimpunan untuk kebajikan:

Manusia tidak seharusnya memencilkan atau mengasingkan dirinya dari sebarang perhubungan dengan sesama manusia.

Banyak perkara yang bersangkut paut dengan hidupnya, dengan agamanya, dengan pentadbiran negara dan masyarakatnya tak dapat diselesaikan melainkan dengan jalan perjumpaan dan perundingan, lebih-lebih lagi melalui persidangan antarabangsa.

Oleh itu, bagi mencapai kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka menghadiri tempat-tempat perhimpunan untuk kebajikan sekadar yang mampu, bagi melahirkan sikap memperhambakan diri kepada Allah `Azza wa Jalla, dan bersyukur akan nikmat-nikmatNya, serta melaksanakan dasar bersatu padu dan bersefahaman antara sesama umat Islam dan juga untuk mendapat berbagai-bagai faedah dan manfaat dari segi rohani, akhlak,  kemasyarakatan dan ekonomi – sebagaimana yang terdapat dalam “Ibadat Haji” – adalah menjadi satu cara hidup yang aman damai dan bahagia.

Dengan yang demikian, maka nyatalah hikmatnya ibadat haji itu menjadi salah satu dari asas atau “Rukun Islam”.

Iman dan Asasnya yang enam:

Sebagaimana yang diketahui bahawa Islam yang diterangkan dalam hadis ini bererti: “Mematuhi apa yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w maka sudah tentu Islam yang bererti: “Kepatuhan yang sebenar-benarnya tidak akan wujud dengan ketiadaan iman atau kepercayaan yang tertentu, kerana: Islam itu adalah ibarat “Pokok”, manakala iman pula adalah ibarat !`Benih”; Dan bahawa sebarang gerak-geri yang disengajakan oleh manusia adalah timbulnya dan sesuatu kepercayaan yang tertentu.

Dengan yang demikian, maka salah satu di antara rukun-rukun agama ialah iman atau kepercayaan,  yang berasaskan enam perkara.

Wujudnya Allah Pencipta Seluruh Alam: 

Sebagaimana yang sedia maklum, manusia yang waras akal fikirannya memang sedar bahawa wujudnya adalah diciptakan oleh Allah Maha Pencipta dan sebagaimana Ia sedar bahawa segala keadaan dan perjalanan dirinya tertakluk kepada undang-undang dan peraturan yang ditetapkan oleh Maha Pencipta itu, ia juga sedar bahawa dirinya tersusun dan jisim dan roh. 

Undang-undang dan peraturan yang disedarinya menguasai keadaan dan perjalanan dirinya itu hanyalah untuk keselamatan jisimnya apabila ia mematuhinya dengan sempurna,  maka sudah tentu bagi rohnya pula wajiblah ia mematuhi dengan sempurna akan undang-undang dan peraturan yang dikhaskan oleh Maha Pencipta untuk keselamatan roh. 

Dengan yang demikian, ia sudah tentu mempercayai adanya Maha Pencipta – iaitu Allah Taala – yang menciptakan diri manusia dan menciptakan undang-undang serta peraturan jasmani dan rohaninya

Adanya Malaikat:

Undang-undang dan ilmu-ilmu jasmani boleh dicari dan dikaji oleh manusia,  tetapi undang-undang dan peraturan rohani iaitu “Hukum-hukum Syarak” tidak akan dapat diketahui melainkan dengan jalan diterima dari Allah Taala dengan perantaraan Malaikat Wahyu,  kerana menurut keadaan semula jadinya, manusia tidak dapat menerima hukum secara langsung dari Allah S.W.T. kecuali Rasul-rasul pilihan,  itupun pada keadaan yang tertentu.

Adanya Kitab-kitab Allah: 

Hukum-hukum dan peraturan yang disampaikan oleh Malaikat Wahyu itu ditulis sebagai sebuah kitab untuk dibaca dan dipelajari serta diamalkan oleh umat manusia.

Adanya Rasul-rasul Allah: 

Sememang maklum bahawa undang-undang dan peraturan-peraturan itu tidak dapat difahami sebagaimana yang semestinya oleh kebanyakan manusia,  maka Allah Taala yang Amat Bijaksana telah memilih orang yang diketahuiNya layak menjadi penyampai dan pensyarah yang menerangkan undang-undang itu satu persatu dan pensyarah itu ialah Rasul-rasulNya.

Adanya Alam Akhirat: 

Sesuatu undang-undang atau perlembagaan tidak akan ada nilainya kalaulah tidak dihormati dan dipatuhi.

Kebanyakan manusia tidak menghormati sesuatu undang-undang atau perlembagaan melainkan setelah mengetahui balasan baik bagi orang yang menghormati dan mematuhinya dan balasan buruk bagi orang yang mencabuli dan mencuaikannya.

Oleh sebab hidup manusia dalam alam dunia ini adalah untuk sementara waktu sahaja maka balasan yang sepenuh-penuh kesempurnaannya dan seadil-adil keadaannya tentulah tidak difikir layak diberikan seseorang menerimanya dalam alam sementara ini, bahkan bagi melayakkan yang tersebut, diakui benar adanya satu alam yang berpanjangan lagi kekal iaitulah “Alam Akhirat” – Alam yang bermula dan masa berakhir hidup manusia dalam alam dunia ini. 

Tambahan pula manusia dijadikan Allah tersusun dari jisim dan roh yang tidak akan habis atau binasa dengan berakhirnya alam dunia ini sekalipun jisimnya menjadi debu atau abu, bahkan roh itu tetap wujudnya berpindah dari satu keadaan ke satu keadaan hingga bercantum dengan tubuhnya yang dibangkitkan hidup semula untuk masa yang kekal itu.

Adanya Qadar dan Taqdir Allah:

Dari huraian-huraian yang tersebut, nyatalah bahawa Allah S.W.T. ialah pencipta seluruh alam meliputi manusia dan makhluk-makhluk yang lain dan Dialah yang menyusun, mengatur dan menentukan hukum-hukum, undang-undang dan peraturan,  bagi segala keadaan makhluk seluruhnya, sama ada yang baik atau yang buruk. 

Maka susunan dan penentuan ada nya dan berlakunya baik dan buruk itu ialah “Qadar Taqdir” tuhan yang azali,  yang menjadi “Rukun Iman” yang akhir.

Ihsan dan Peringkat-peringkatnya:

Sebagaimana yang sedia diketahui bahawa “Ihsan” ialah cara mengerjakan sesuatu taat dengan sebaik-baiknya, lengkap segala peraturannya, serta dengan ikhlas kepada Allah Taala, iaitu bersih dari syirik dan sikap munafik serta bersih dan perasaan riak,  ujub dan lain-lainnya.

Yang demikian ini ialah hakikat Ihsan yang menjadi salah satu dari “Rukun-rukun Agama” yang tiga, yang dengan ketiadaannya maka yang dua lagi – Iman atau Islam – tidak diterima,  kerana taat yang dikerjakan dengan ketiadaan Ihsan adalah ibarat patung yang tidak bernyawa.

Ini ialah peringkat Ihsan yang pertama, yang mesti diusahakan oleh tiap-tiap seorang.

Selain dari itu, ada dua peringkat lagi iaitu yang diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis ini.

Tanda-tanda kedatangan hari Qiamat:

Oleh kerana hikmatnya Allah Taala menjadikan jin dan manusia serta makhluk-makhluk yang lain ialah untuk masing-masing membuktikan taat setianya dan penghormatannya dengan mengerjakan amal ibadat kepadaNya, maka untuk membicarakan dan membalas ketaatan dan kederhakaan tiap-tiap makhluk,  sudah tentu adanya satu masa yang ditetapkan untuk tujuan yang demikian, iaitu “Hari Qiamat”.

Oleh sebab itulah si penanya bertanya kepada Baginda tentang waktu kedatangan hari Qiamat itu, akan tetapi oleh kerana soal waktu kedatangan hari Qiamat itu adalah satu dari lima perkara yang pengetahuannya tertentu bagi Allah jua, maka Rasulullah s.a.w. menjawab dengan sabdanya yang bermaksud:  “Orang yang ditanyakan soal itu samalah sahaja dengan orang yang bertanya, tetapi aku akan menerangkan tanda-anda kedatangannya”, lalu Baginda menerangkan seperti yang tersebut dalam hadis ini.

Selain dari yang diterangkan dalam hadis ini, ada didapati dalam kitab-kitab hadis yang lain banyak lagi tanda-tanda tentang hampirnya kedatangan hari Qiamat, di antaranya:

Pertama – Apabila susut dan kurang ilmu pengetahuan agama dengan kematian seseorang alim yang ahli dalam sesuatu cawangan ilmu yang tertentu dan tidak dapat diganti

Kedua – Apabila merebaknya kejahilan mengenai ilmu agama dengan sebab kurangnya orang-orang yang suka mempelajarinya.

Ketiga – Apabila diserahkan sesuatu urusan agama seperti jawatan ketua negara, mufti,  kadhi dan sebagainya, untuk dikendalikan oleh orang yang bukan ahlinya.

Keempat – Apabila sesuatu masyarakat dipimpin oleh seseorang ketua yang fasik yang suka menggalakkan maksiat dan perbuatan yang durjana.

Kelima – Apabila orang yang benar dikatakan pendusta, pendusta dikatakan orang yang benar;  orang yang khianat disifatkan amanah,  orang yang amanah dikatakan khianat;  orang yang adil disifatkan zalim,  orang yang zalim disifatkan adil dan orang-orang yang jahil berpengaruh dan bermaharajalela dengan berlagak pandai dalam ilmu agama sehingga orang alim terpaksa mendiamkan diri (setelah tugasnya tidak lagi dihargai).

Keenam – Apabila arak menjadi adat diminum berterang-terang di sana sini, dengan digalakkan pula oleh pemimpin-pemimpin dan ketua. 

Ketujuh – Apabila perbuatan lucah dan cabul dilakukan dengan berterang-terang di merata-rata tempat dengan tidak mendapat sebarang teguran kerana kelemahan iman,  sehingga kalaulah ada yang menegur maka orang yang menegur itu boleh dikatakan imannya pada masa itu sekuat iman Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar pada zaman sahabat-sahabat Nabi s.a.w.

Lampiran (B):
Soal Sembahyang:

Mengenai sembahyang, Sayidina Umar r.a., berkata – Sebagaimana yang tersebut dalam kitab Al-Muwatta’: Sesiapa memelihara sembahyang dan tetap mengerjakannya, bererti ia memelihara agamanya dan sebaliknya sesiapa yang mensia-siakannya maka ia lebih-lebih lagi akan mensia-siakan kewajipan-kewajipan agama yang lain”.

Sebenarnya sembahyang itu tiang agama dan semulia-mulia asas Islam yang lima sesudah Dua Kalimah Syahadat. 

Kedudukan sembahyang dalam agama menyamai kedudukan kepala pada tubuh badan; oleh itu, sebagaimana seseorang yang tidak berkepala tidak akan hidup, maka demikian juga tidak ada agama bagi orang yang tidak mengerjakan sembahyang.

Dalam kitab At-Tanwir, Sidi Ahmad bin Ata’illah berkata:  Sembahyang amatlah besar kemuliaannya dan keadaannya di sisi Allah amatlah berat;  dan kerana itulah Allah Taala berfirman, maksudnya; “Sesungguhnya sembahyang itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar” dan Rasulullah s.a.w. pula ketika ditanyakan tentang amal yang semulia-mulianya, Baginda menjawab,  maksudnya: “(Semulia-mulia amal) ialah sembahyang yang dikerjakan pada waktunya”.

Baginda juga bersabda maksudnya: “Orang yang mengerjakan sembahyang adalah ia bermunajat (mengadap dan merayu) kepada Tuhannya.”

Dan sabdanya lagi, maksudnya: “Sehampir-hampir seseorang hamba itu kepada Tuhannya ialah semasa ia sujud.”

Sebagaimana yang dapat disaksikan,  bahawa dalam sembahyang terhimpun berbagai-bagai jenis ibadat yang tidak ada pada lainnya. Di antara ibadat-ibadat yang terhimpun dalam sembahyang ialah: Bersuci, berdiam diri, mengadap kiblat,  membaca doa iftitah, membaca Al-Qur’an, berdiri rukuk,  sujud,  bertasbih dalam rukuk dan sujud,  berdoa dalam sujud dan lain-lainnya, yang merupakan himpunan ibadat yang berbilang-bilang; kerana zikir sahaja adalah ibadat dan bacaan Al-Qur’an sahaja adalah ibadat;  demikian juga halnya Tasbih, doa,  rukuk dan sujud; tiap-tiap satunya adalah menjadi ibadat. ” Demikian kata Ibnu ‘Ata’illah dalam “At-Tanwir.”

Perintah-perintah mengenai sembahyang, memeliharanya dan keadaannya menjadi sifat dan syi’ar orang-orang yang beriman,  banyak sekali diterangkan di dalam Al-Qur’an al-Karim. Di antaranya firman Allah Taala, maksudnya:

“Peliharalah kamu (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembah yang fardu,  khasnya sembahyang Wusta (sembahyang Asar), dan berdirilah kerana Allah (dalam sembah yang kamu) dengan taat dan khusyuk. ” (238, Al-Baqarah).

“Hendaklah kamu sentiasa rujuk kembali kepada Allah (dengan mengerjakan amal-amal bakti) serta bertaqwalah kamu kepadaNya dan kerjakanlah sembahyang dengan betul sempurna dan janganlah kamu menjadi dari mana-mana golongan orang musyrik.” (33, Ar-Rum).

“Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman,  iaitu mereka yang khusyuk dalam sembahyangnya. ” (1-2, Al-Mu’minun).

“Sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingati Allah adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya) …” (45, Al-‘Ankabut).

“Sesungguhnya sembahyang itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman,  yang tertentu waktunya.” (103, An-Nisa).

Sembahyang yang lima waktu ini yang dikerjakan sehari semalam, tidak boleh sama sekali bagi seseorang yang mengakui dirinya Islam dan menghitung dirinya dalam barisan umat Islam meninggalkan satu waktu pun, dalam segala keadaan,  selagi ia masih sempurna akalnya, sekalipun ia sakit tenat. Kalau ia tak dapat berdiri sembahyang kerana uzur, ia boleh sembahyang duduk;  jika tidak dapat, ia boleh sembahyang dengan berbaring – dengan mengiring ke sebelah kanan atau ke kiri atau pun dengan terlentang.

Di dalam Al-Qur’an al-Karim diberi amaran mengenai orang-orang yang mencuaikan sembahyang. Tentang ini Allah Taala berfirman, maksudnya:

“Kemudian mereka (yang taat) digantikan oleh keturunan-keturunan yang mencuaikan sembahyang serta menurut hawa nafsu (dengan melakukan maksiat); maka mereka akan menghadapi azab dalam neraka,  – “Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal salih ..” (59-60, Maryam).

Dalam huraiannya, Ibnu Abbas berkata – seperti yang disebutkan oleh al-Syams al-Zahabi dalam kitabnya al-Kabair: Bahawa “Mencuaikan sembahyang” yang tersebut dalam ayat ini bukan maknanya mereka meninggalkan sembahyang sama sekali, tetapi maksudnya mereka mentakhirkan (melengahkan) sembahyang sehingga keluar waktunya.

Hal ini dijelaskan oleh Said bin Al-Musayib, dengan menyatakan bahawa maksudnya: Orang itu tidak sembahyang Zuhur melainkan setelah masuk waktu Asar, (dan seterusnya tentang waktu-waktu yang lain). Maka sesiapa yang mati dalam keadaan yang demikian dan ia tidak bertaubat,  maka balasan yang ditetapkan baginya ialah azab seksa di dalam neraka.

Firman Allah lagi, maksudnya: “Maka kecelakaan besar bagi orang-orang ahli sembahyang yang keadaan mereka lalai daripada menyempurnakan sembahyangnya” (4-5, Al-Ma’uun).

Yakni yang lalai dari mengerjakannya pada waktunya, lalu dijanjikan kepada mereka dengan balasan yang seburuk-buruknya di dalam neraka,  kecuali orang yang bersifat demikian segera bertaubat dan menyesal terhadap perbuatannya itu.

Dan firmannya lagi, maksudnya: “Wahai orang-Orang yang beriman!  Janganlah kamu dilalaikan oleh (urusan) harta benda kamu dan anak pinak kamu daripada mengingati Allah (dengan menjalankan perintahnya). Dan (ingatlah!) sesiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang yang rugi. ” (9, Al-Munafiqun).

Menurut sebahagian dan ahli tafsir,  “Mengingati Allah” (zikir Allah) di sini ialah “Sembahyang yang lima waktu”; maka sesiapa yang mencuaikannya kerana dilalaikan oleh harta bendanya, anak pinaknya dan segala urusan hidupnya, menjadilah ia dan orang-orang yang rugi serugi-ruginya.

Di dalam hadis-hadis pula ada diterangkan tentang setakat mana beratnya kewajipan sembahyang itu. Di antaranya Baginda bersabda, maksudnya: “Jaminan berbaik-baik di antara kita dengan mereka yang mendakwa dirinya orang Islam ialah mengenakan sembahyang, oleh itu sesiapa yang tidak sembahyang maka sesungguhnya termasuklah ia dalam hukum orang kafir. “

Dan sabdanya lagi, maksudnya: “Perkara yang menghubungkan seseorang dengan kufur ialah meninggalkan sembahyang. “

Dan sabdanya lagi, maksudnya: “Sesiapa yang cuai sehingga ia terlepas dari mengerjakan sembah yang Asar pada waktunya, maka sesungguhnya telah binasalah amalnya.”

Dan sabdanya lagi, maksudnya: “Sesiapa yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja,  maka sesungguhnya terlepaslah ia dari jaminan Allah menyelamatkannya.”

Dan sabdanya lagi, maksudnya: “Sesiapa yang memelihara sembahyang dengan sebaik-baiknya, nescaya sembahyang itu menjadi cahaya baginya dan menjadi bukti serta penyelamat baginya pada hari Qiamat; dan sesiapa yang mencuaikannya, maka semuanya itu tidak akan diperolehinya, dan ia akan dihimpunkan pada hari Qiamat bersama-sama dengan Fir’aun, Qarun, Haman dan Ubai bin Khalaf.”

Menurut penjelasan setengah ulama, bahawa sebabnya orang yang tersebut dihimpunkan bersama-sama empat orang (jaguh kekufuran) itu ialah: Kerana yang melalaikannya dan menunaikan sembahyang tidak lain melainkan hartanya, atau kerajaannya (jika Ia seorang pemegang teraju pemerintahan), atau jawatannya sebagai menteri, atau pun perniagaannya. Kalau hartanya yang melalaikannya maka ia akan dihimpunkan bersama-sama Qarun; kalau kerajaannya yang melalaikannya maka ia akan dihimpunkan bersama-sama Fir’aun; kalau pula jawatannya sebagai menteri yang melalaikannya maka ia akan dihimpunkan bersama-sama Haman (menteri Fir’aun); dan kalau pula perniagaannya yang melalaikannya maka ia akan dihimpunkan bersama-sama Ubai bin Khalaf (saudagar kaum Musyrik Mekah).

Dalam satu hadis lagi, bahawa Sayidina Umar, r.a., berkata:  Seseorang lelaki telah datang mengadap Rasulullah s.a.w. lalu bertanya, katanya: “Ya Rasulullah,  apakah satu-satunya amal dalam Islam yang lebih diperkenankan oleh Allah Taala?” Baginda menjawab:  “Ialah sembahyang yang dikerjakan pada waktunya, dan sesiapa yang meninggalkan sembahyang maka tidak ada agama baginya, kerana sembahyang itu tiang agama. “

Dalam satu hadis yang lain, Baginda bersabda, maksudnya: “Apabila seseorang mengerjakan sembahyang pada awal waktunya, naiklah sembahyang itu ke langit serta ia bercahaya sehingga ia sampai kepada `Arasy lalu ia meminta ampun bagi orang yang mengerjakannya. (Demikianlah hal sembahyang itu) hingga hari Qiamat sambil ia berkata: “Semoga Allah memelihara mu sebagaimana engkau memelihara ku”; dan apabila seseorang mengerjakan sembahyang pada luar waktunya, naiklah sembahyang itu ke langit dengan diselubungi oleh gelap gelita, setelah sampai di langit lalu digulung seperti tergulungnya baju buruk dan dipukulkan ke muka orang yang mengerjakannya sambil sembahyang itu berkata (kepada tuannya): “Semoga Allah mensia-siakan mu sebagaimana engkau mensia-siakan aku”

Orang yang mengerjakan sembahyang dengan tidak sempurna amatlah buruk balasannya:

Dalam satu hadis yang diterangkan bahawa Rasulullah s.a.w. melihat seorang yang tidak menyempurnakan rukuknya dan mematuk (seperti ayam) semasa ia sujud, lalu Baginda bersabda, maksudnya: “Kalau orang itu mati dalam keadaannya yang demikian, nescaya ia mati dengan ketiadaan Islam….”

Dalam satu hadis lagi ada diterangkan, maksudnya: “Seseorang itu tidak akan beroleh pahala dari sembahyangnya melainkan mana-mana yang dikerjakannya dengan penuh kesedaran.  Setengah orang yang mengerjakan sembahyang ada kalanya tidak mendapat seperenam dari pahala sembahyangnya dan tidak sepersepuluh.” Yakni ia hanya mendapat pahala bagi bahagian sembahyang yang tertentu yang dikerjakannya dengan penuh kesedaran serta khusyuk.  Orang yang penuh sedar dan khusyuk di sepanjang-panjang sembahyangnya maka ia beroleh pahala bagi seluruh sembahyangnya itu dan sebaliknya orang yang lalai di sepanjang-panjang sembahyangnya hampalah dia dari mendapat sebarang pahala mengenainya.

Orang mukmin yang menaruh belas kasihan kepada dirinya sendiri dan mencintai agamanya, adalah bertanggungjawab mengambil berat menyuruh dan mengajar ahli rumah dan anak pinaknya supaya mereka tetap memelihara dan mengerjakan sembahyang.

Kewajipan ini ditegaskan oleh Allah Taala di dalam Al-Qur’an al-Karim dengan firmanNya yang bermaksud: 

“Dan perintahkanlah keluarga mu mengeriakan sembahyang dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya….” (132, Taha).

Dan firmannya lagi; maksudnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya manusia dan batu (berhala) (6, At-Tahrim).

Nabi s.a.w. sendiri setelah ayat ini turun,  sentiasa mengambil berat mengingatkan dan mengawasi keluarganya mengenai sembahyang. Bahkan Baginda dan keluarganya apabila menghadapi apa-apa kesukaran,  lazimnya Baginda dan keluarganya mengerjakan sembahyang banyak-banyak.

Cara yang demikian ini juga menjadi amalan Nabi-nabi yang telah lalu – (as.).

Kerana tidak syak lagi, sembahyang itu menjadi sebab yang membawa rahmat,  murah rezeki dan menolak bala’ bencana.

8 Tips Mudah Menjaga Kesehatan Mata Anda

Mata merupakan organ pada tubuh kita yang sangat berharga. Denga memiliki mata yang sehat, maka kita dapat melihat keindahan dunia yang telah diciptakan oleh Tuhan YME kepada umatnya. Oleh karena itulah, penting sekali untuk kita senantiasa bersyukur terhadap anugerah mata yang di berikan Tuhan YME kepada kita. Dalam hal ini, kita harus menjaga dan merawat kesehatan mata agar tidak mengalami berbagai penyakit atau masalah kesehatan lainnya yang terkait dengan mata. Lalu, bagaimana menjaga kesehatan mata kita yang paling baik ….????

Sahabat, tips kesehatan. Banyak sekali penyakit mata yang mungkin tidak asing di telinga kita seperti miopi atau rabun jauh, presbiopi atau tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh maupun dekat, katarak, hipermetropi atau rabun dekat, maupun buta warna yang tidak dapat membedakan aneka warna. Berbagai penyebab penyakit tersebut dapat menimpa mata seseorang. Seperti miopi yang banyak menimpa kalangan pelajar dan mereka yang sangat hobi dalam membaca buku. Ini dikarenakan, para pelajar dan orang-orang tersebut membaca buku terlalu dekat. Untuk lebih memahami dan mengerti cara menjaga kesehatan mata yang benar. Berikut ini, tips kesehatan mengetengahkan sebuah artikel yang berjudul 8 tips menjaga kesehatan mata anda. Inilah tips menjaga kesehatan mata anda :
  1. Usahakan membaca buku pada jarak yang ideal. Jarak ideal yang dimaksud yaitu membaca buku pada jarak 30 cm dari buku ke mata anda. Hal ini untuk mencegah penyakit mata seperti miopi atau rabun dekat.
  2. Usahakan tidak membaca buku atau teks apapun dalam kondisi sambil tiduran. Ini juga dapat membuat kesehatan mata anda terganggu seperti dapat terkena miopi.
  3. Usahakan menggunakan penerangan yang tidak minim atau terlalu redup ketika belajar atau membaca apapun itu. karena penerangan yang redup dapat menganggu kesehatan mata anda.
  4. Usahakan mengistirahatkan mata anda, ketika sudah terlalu lama di depan layar komputer atau laptop saat mengerjakan tugas atau aktivitas apapun di komputer atau laptop yang anda miliki. Ini juga sangat penting untuk menjaga kesehatan mata anda.
  5. Usahakan tidak mengucek mata anda, ketika tangan anda dalam keadaan kotor atau habis memegang sesuatu benda. Karena tangan anda yang kotor dapat menginfeksi organ mata anda yang akan berakibat sangat buruk untuk kesehatan mata anda.
  6. Usahakan mengedipkan mata anda dengan intensitas agak ditambah, pada saat fokus melihat sesuatu terlalu lama. Dalam hal ini, sangat fokus dalam memandang layar monitor ataupun laptop saat mengerjakan tugas atau aktivitas yang berkaitan dengan komputer atau laptop.
  7. Usahakan memakan makanan yang sangat baik untuk kesehatan mata anda. Dalam hal ini, wortel merupakan jenis makanan yang paling baik untuk kesehatan mata anda, karena dalam wortel banyak mengandung vitamin A yang sangat baik untuk kesehatan mata anda.
  8. Usahakan agar berhenti dari kebiasaan merokok bagi anda yang memiliki kebiasaan merokok. Ini dikarenakan, anda akan berpotensi mengalami sejumlah penyakit mata seperti katarak dan kerusakan saraf optik pada mata anda.
Artikel Terkait…

Semoga tips kesehatan yang membahas 8 tips menjaga kesehatan mata anda dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Karena dengan mata yang sehat, maka akan sangat baik untuk anda. Akhir kata, salam hangat dari penulis.

Sumber : Sidomi,  majalah kesehatan, makhluksurga.
Image courtesy of -Marcus- at FreeDigitalPhotos.net

Arti dan Pengertian Akhlak dalam Islam

Apakah akhlak itu?
Jiwa manusia adalah sumber dan pangkal dari segala perbuatan dan kelakuannya. Jika jiwa seseorang baik maka segala perbuatan dan amalnya akan baik juga. Sebaliknya jika jiwanya jelek dan busuk maka segala amal perbuatannya akan jelek dan buruk pula.
Sabda Rasulullah saw.:
 إنّ فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كلّه وإذا فسدت فسد الجسد كلّه، ألا وهي لقلب.
“Sesungguhnya ada segumpal daging dalam tubuh manusia, jika daging itu baik menjadi baiklah tubuh orang itu, dan apabila daging itu busuk maka menjadi busuklah tubuh. Segumpal daging itu ialah hati.”
Maka jika jiwa seseorang adalah sumber dan pangkal segala tingkah lakunya, maka dengan sendirinya perbuatan orang dan amalnya merupakan cermin dari apa yang terkandung di dalam dadanya.
Dan karena jiwa itu adalah sesuatu barang ghaibyang tidak dapat diraba dan diketahui oleh manusia, maka kelakuan lahiriah dari seseorang menandakan baik-buruknya isi hai dan jiwanya.
Ukuran baik-buruknya amal.
Amal/kelakuan yang baik ialah yang disebut “khair”
Amal/kelakuan yang buruk ialah yang disebut “syarr”.
Amal kahir dianjurkan dan diperintahkan oleh Islam, sedang amal syarr dilarang dan dicegah. Dan inilah ukuran yang benar bagi semua perbuatan dan kelakuan.
Ukuran “khair” dan “syarr” ini adalah dari Allah swt. maka karenanya merupakan suatu ukuran yang tetap tidak berubah-ubah dengan perubahan pelakunya atau perubahan waktu dan suasana serta keadaan, sebagaimana ukuran-ukuran yang dibuat oleh manusia yang selalu menjadi bahan pertentangan dan perselisihan antara para ulama dan cendekiawan yang walaupun mereka sudah menjajaki semua madzhab dan aliran, mereka belum sampai ke suatu titik yang dapat dijadikan pegangan. Pengarahan jiwa Jika manusia menurut kodratnya tidak dapat disifatkan baik atau buruk pada tingkat pertamanya. Ia sebagai kekuatan pendorongmasih dapat diarahkan menjadi baik dan dapat pula diarahkan menjadi buruk, bisa dibersihkan dan bisa pula dikotorkan, sebagaimana firman Allah:
Firman Allah Surat Asy-syam ayat 7-10
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Asy Syams 7-10)
Dan jika sebagian orang sifat-sifat baiknya lebih menonjol dari sifat-sifat buruknya, sedang sebagian yang lain lebih menonjol sifat-sifat buruknya, maka hal itu adalah pembawaan jiwa yang sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
 ألنّاس معادن كمادن الذهب والفضّة خيارهم فى الجهليّة خيارهم فى الاسلام إذا فقهوا.
“Bahwasanya jiwa manusia itu adalah umpama tambang emas dan perak; mereka yang baik di waktu zaman jahiliyyah, tetap baik dalam suasana Islam, jika mengerti benar-benar ajaran Islam.
Allah telah memberi pedoman bagi manusia untuk berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang baik. Pedoman itu difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an seperti termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 177, surat Al-An’aam ayat 151, surat Al-israa ayat 23 dan banyak ayat-ayat lain yang kesemuanya memberi petunjuk bagaimana orang harus berperilaku menurut akhlak yang tinggi dan budi pekerti yang luhur.
Firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 177
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah 177).
Firman Allah Surat Al-An’aam 151-152
“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (Al-An’aam 151-152).
Firman Allah Al-Isra’ ayat 23-27
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, Maka Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-Israa’ 23-27)

Artikel Terkait

Bahasa pemrograman

Bahasa pemrograman, atau sering diistilahkan juga dengan bahasa komputer, adalah teknik komando/instruksi standar untuk memerintah komputer. Bahasa pemrograman ini merupakan suatu himpunan dari aturan sintaks dan semantik yang dipakai untuk mendefinisikan program komputer. Bahasa ini memungkinkan seorang programmer dapat menentukan secara persis data mana yang akan diolah oleh komputer, bagaimana data ini akan disimpan/diteruskan, dan jenis langkah apa secara persis yang akan diambil dalam berbagai situasi.

Menurut tingkat kedekatannya dengan mesin komputer, bahasa pemrograman terdiri dari:

  1. Bahasa Mesin, yaitu memberikan perintah kepada komputer dengan memakai kode bahasa biner, contohnya 01100101100110
  2. Bahasa Tingkat Rendah, atau dikenal dengan istilah bahasa rakitan (bah.Inggris Assembly), yaitu memberikan perintah kepada komputer dengan memakai kode-kode singkat (kode mnemonic), contohnya MOV, SUB, CMP, JMP, JGE, JL, LOOP, dsb.
  3. Bahasa Tingkat Menengah, yaitu bahasa komputer yang memakai campuran instruksi dalam kata-kata bahasa manusia (lihat contoh Bahasa Tingkat Tinggi di bawah) dan instruksi yang bersifat simbolik, contohnya {, }, ?, <<, >>, &&, ||, dsb.
  4. Bahasa Tingkat Tinggi, yaitu bahasa komputer yang memakai instruksi berasal dari unsur kata-kata bahasa manusia, contohnya begin, end, if, for, while, and, or, dsb.

Sebagian besar bahasa pemrograman digolongkan sebagai Bahasa Tingkat Tinggi, hanya bahasa C yang digolongkan sebagai Bahasa Tingkat Menengah dan Assembly yang merupakan Bahasa Tingkat Rendah.

[sunting] Daftar Bahasa Pemrograman

Berikut ini adalah daftar bahasa pemrograman komputer:

[sunting] Pranala luar

Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahasa_pemrograman&oldid=6305217

Kategori:

Guru Masa Depan

seorang guru sedang mengajar didepan kelas, guru waktu dulu, masih pakai kapur dan papan tulis (diunduh dari Google, sumber 3bp.blogspot.com)

seorang guru sedang mengajar didepan kelas, guru waktu dulu, masih pakai kapur dan papan tulis (diunduh dari Google, sumber 3bp.blogspot.com)

Dulu, untuk menjadi seorang guru, anda cukup tamatan SGB (Sekolah Guru B), SGA, SPG. Tapiiii, sekarang,  Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa  guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Sehingga sejak itu seorang guru haruslah seorang yang professional yang dibuktikan dengan sertifikat. Melalui keharusan ini seorang yg telah menjadi guru sekian lamapun haruslah punya sertifikat, untuk itu  Kementeri Pendidikan mempunyai  proyek sertifikasi guru yang akan ada sampai tahun 2014, sama dengan akhir  jadwal pemerintahan SBY.

Nah, ini sesuatu yang baru lagi dari Kementerian Pendidikkan Republik Indonesia bahwa seseorang yang ingin menjadi guru tidaklah cukup hanya dengan  ijazah S1 Pendidikan saja. Tapi harus dilengkapi dengan ijazah Pendidikan Profesi Guru.

karikatur guru professional (diunduh dari Google, sumber kabarindonesia.com)

karikatur guru professional (diunduh dari Google, sumber kabarindonesia.com)

Apakah itu Pendidikan Profesi ? Pendidikan profesi adalah sistem pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang menyiapkan peserta didik untuk menguasai keahlian khusus. Lulusan pendidikan profesi mendapatkan gelar profesi. Gelar profesi misalnya apoteker, akuntan, notaris, dokter dll, tamatan Pendidikkan Profesi Guru punya gelar apa ya ???.

Bagaimana dengan Profesi Guru ? Pendidikan Profesi Guru ditempuh melalui Sertifikasi Guru dalam Jabatan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor18 Tahun 2007); dan Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009).

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan. Sertifikasi akan diikuti oleh guru yang telah memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV). Sertifikasi tersebut diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.

Untuk memperoleh sertifkat pendidik, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi. Uji kompetensi dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio, yakni penilaian sekumpulan dokumen yang mendeskripsikan: (a) kualifikasi akademik, (b) pendidikan dan pelatihan; (c) pengalaman mengajar; (d) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (e) penilaian dari atasan dan pengawas; (f) prestasi akademik; (g) karya pengembangan profesi; (h) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (i) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan (j) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Guru yang lulus penilaian portofolio mendapatkan sertifikan pendidik, sedangkan yang tidak lulus penilaian portofolio dapat (a) melakukan kegiatan yang dapat melengkapi portofolio agar mencapai nilai lulus, atau (b) mengikuti pendidikan dan pelatihan profesi guru (PLPG) yang diakhiri dengan ujian.

Inilah guru masa depan (diunduh dari Google, sumber zetabangun.blogspot.com)

Inilah guru masa depan (diunduh dari Google, sumber zetabangun.blogspot.com)

Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan yang selanjutnya disebut dengan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Program PPG diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.

Seleksi penerimaan peserta didik program PPG dilakukan oleh program studi/jurusan di bawah koordinasi LPTK penyelenggara. Hasil seleksi dilaporkan oleh LPTK penyelenggara kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Kuota jumlah penerimaan peserta didik secara nasional ditetapkan Menteri Pendidikan Nasional.

Lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang tidak sesuai dengan program PPG yang akan diikuti, harus mengikuti program matrikulasi.

Jadi bagi anda-anda yang telah menjadi mahasiswa pada Fakultas Keguruan atau berniat kuliah untuk mendapatka S1 Pendidikan, perlu mengaji ulang kembali, karena untuk menjadi guru sekarang prosesnya tak jauh berbeda dengan menjadi dokter. Kalau untuk menjadi dokter pertama anda harus mendapat ijazah Sarjana Kedokteran (Sked, dulu namanya Drs. Medicine), kemudian ambil pendidikan profesi dokter  3-4 semester, dengan pendidikan ini akan mendapatkan gelar Dokter umum, bila ingin jadi dokter spesialis, ikuti lagi pendidikan spesialis misalnya spesialis Kulit dan Kelamin dll.

Begitu juga dengan guru, pertama anda harus meraih gelar Sarjana Pendidikan (SPd) atau gelar kesarnaan non kependidikan, selanjutnya anda harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru, saya belum menemukan literatur atau ketentuan nantinya setelah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru akan bergelar apa, apakah Pendidik atau Guru ?? entahlah, nanti mungkin akan keluar juga peraturan bila ingin menjadi spesialis misalnya Pendidik Spesialis Kimia (PSK), Pendidik Spesialis Matematik (PSM) atau Pendidik Spesialis Fisika (PSF).

Bedanya dengan dokter, kalau sudah mengikuti profesi dokter, maka yg bersangkutan kalaupun tidak diterima jadi pegawai negeri, mereka bisa buka praktek sendiri dan menghasilkan uang, tapi kalau Guru, setelah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru, anda mau jadi apa/ Wallaohu’alam bissawab.

Saya yakin tulisan saya ini mengandung banyak kelemahan dan kekurangan karena ditulis oleh seorang yg tidak profesional, hanya dari menginterpresikan secara dangkal dari apa yang dibaca, dilihat dan didengar, untuk itu saya mohon ma’af. Salam 34rs.

Teknologi

 Pada pertengahan abad ke-20, manusia telah mencapai kecukupan teknologi untuk kali pertama meninggalkan atmosfer Bumi dan menjelajahi ruang angkasa.

Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana. Penemuan prasejarah tentang kemampuan mengendalikan api telah menaikkan ketersediaan sumber-sumber pangan, sedangkan penciptaan roda telah membantu manusia dalam beperjalanan dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global. Tetapi, tidak semua teknologi digunakan untuk tujuan damai; pengembangan senjata penghancur yang semakin hebat telah berlangsung sepanjang sejarah, dari pentungan sampai senjata nuklir.

Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di banyak kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan dan merusak Bumi dan lingkungannya. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh, meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnynya hanya menyangku permesinan, contoh lainnya adalah tantangan norma-norma tradisional.

bahwa keadaan ini membahayakan lingkungan dan mengucilkan manusia; penyokong paham-paham seperti transhumanisme dan tekno-progresivisme memandang proses teknologi yang berkelanjutan sebagai hal yang menguntungkan bagi masyarakat dan kondisi manusia. Tentu saja, paling sedikit hingga saat ini, diyakini bahwa pengembangan teknologi hanya terbatas bagi umat manusia, tetapi kajian-kajian ilmiah terbaru mengisyaratkan bahwa primata lainnya dan komunitas lumba-lumba tertentu telah mengembangkan alat-alat sederhana dan belajar untuk mewariskan pengetahuan mereka kepada keturunan mereka.

Daftar isi

Definisi dan penggunaan

Penciptaan mesin cetak telah memungkinkan para ilmuwan dan politisi mengomunikasikan gagasan-gagasan mereka secara lebih mudah, kunci pembuka bagi Abad Pencerahan; sebuah contoh teknologi sebagai kekuatan budaya.

Penggunaan istilah ‘teknologi’ (bahasa Inggris: technology) telah berubah secara signifikan lebih dari 200 tahun terakhir. Sebelum abad ke-20, istilah ini tidaklah lazim dalam bahasa Inggris, dan biasanya merujuk pada penggambaran atau pengkajian seni berguna.[1] Istilah ini seringkali dihubungkan dengan pendidikan teknik, seperti di Institut Teknologi Massachusetts (didirikan pada tahun 1861).[2] Istilah technology mulai menonjol pada abad ke-20 seiring dengan bergulirnya Revolusi Industri Kedua. Pengertian technology berubah pada permulaan abad ke-20 ketika para ilmuwan sosial Amerika, dimulai oleh Thorstein Veblen, menerjemahkan gagasan-gagasan dari konsep Jerman, Technik, menjadi technology. Dalam bahasa Jerman dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, perbedaan hadir di antara Technik dan Technologie yang saat itu justru nihil dalam bahasa Inggris, karena kedua-dua istilah itu biasa diterjemahkan sebagai technology. Pada dasawarsa 1930-an, technology tidak hanya merujuk pada ‘pengkajian’ seni-seni industri, tetapi juga pada seni-seni industri itu sendiri.[3] Pada tahun 1937, seorang sosiolog Amerika, Read Bain, menulis bahwa technology includes all tools, machines, utensils, weapons, instruments, housing, clothing, communicating and transporting devices and the skills by which we produce and use them (“teknologi meliputi semua alat, mesin, aparat, perkakas, senjata, perumahan, pakaian, peranti pengangkut/pemindah dan pengomunikasi, dan keterampilan yang memungkinkan kita menghasilkan semua itu”).[4] Definisi yang diajukan Bain masih lazim dipakai oleh kaum terpelajar hingga saat ini, terkhusus ilmuwan sosial. Tetapi ada juga definisi yang sama menonjolnya, yakni definisi teknologi sebagai sains terapan, khususnya di kalangan para ilmuwan dan insinyur, meskipun sebagian besar ilmuwan sosial yang mempelajari teknologi menolak definisi ini.[5] Yang lebih baru, para kaum terpelajar telah meminjam dari para filsuf Eropa, technique, untuk memperluas makna technology ke berbagai macam bentuk nalar instrumental, seperti dalam karya Foucault tentang techniques de soi, yang diterjemahkan sebagai technologies of the self atau teknologi diri.

Kamus-kamus dan para sarjana telah memberikan berbagai macam definisi. Kamus Merriam-Webster memberikan definisi “technology” sebagai the practical application of knowledge especially in a particular area (terapan praktis pengetahuan, khususnya dalam ruang lingkup tertentu) dan a capability given by the practical application of knowledge (kemampuan yang diberikan oleh terapan praktis pengetahuan).[6] Ursula Franklin, dalam karyanya dari tahun 1989, kuliah “Real World of Technology”, memberikan definisi lain konsep ini; yakni practice, the way we do things around here (praktis, cara kita memperbuat ini semua di sekitaran sini).[7] Istilah ini seringkali digunakan untuk mengimplikasikan suatu lapangan teknologi tertentu, atau untuk merujuk teknologi tinggi atau sekadar elektronik konsumen, bukannya teknologi secara keseluruhan.[8] Bernard Stiegler, dalam Technics and Time, 1, mendefinisikan technology dalam dua cara: sebagai the pursuit of life by means other than life (pencarian kehidupan, dalam artian lebih dari sekadar hidup), dan sebagai organized inorganic matter (zat-zat anorganik yang tersusun rapi).[9]

Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai. Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata. Ia adalah istilah yang mencakupi banyak hal, dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat dan mesin tidak mesti berwujud benda; teknologi virtual, seperti perangkat lunak dan metode bisnis, juga termasuk ke dalam definisi teknologi ini.[10]

Kata “teknologi” juga digunakan untuk merujuk sekumpulan teknik-teknik. Dalam konteks ini, ia adalah keadaan pengetahuan manusia saat ini tentang bagaimana cara untuk memadukan sumber-sumber, guna menghasilkan produk-produk yang dikehendaki, menyelesaikan masalah, memenuhi kebutuhan, atau memuaskan keinginan; ia meliputi metode teknis, keterampilan, proses, teknik, perangkat, dan bahan mentah. Ketika dipadukan dengan istilah lain, seperti “teknologi medis” atau “teknologi luar angkasa”, ia merujuk pada keadaan pengetahuan dan perangkat disiplin pengetahuan masing-masing. “Teknologi state-of-the-art” (teknologi termutakhir, sekaligus tercanggih) merujuk pada teknologi tinggi yang tersedia bagi kemanusiaan di ranah manapun.

Teknologi dapat dipandang sebagai kegiatan yang membentuk atau mengubah kebudayaan.[11] Selain itu, teknologi adalah terapan matematika, sains, dan berbagai seni untuk faedah kehidupan seperti yang dikenal saat ini. Sebuah contoh modern adalah bangkitnya teknologi komunikasi, yang memperkecil hambatan bagi interaksi sesama manusia, dan sebagai hasilnya, telah membantu melahirkan sub-sub kebudayaan baru; bangkitnya budaya dunia maya yang berbasis pada perkembangan Internet dan komputer.[12] Tidak semua teknologi memperbaiki budaya dalam cara yang kreatif; teknologi dapat juga membantu mempermudah penindasan politik dan peperangan melalui alat seperti pistol atau bedil. Sebagai suatu kegiatan budaya, teknologi memangsa ilmu dan rekayasa, yang masing-masing memformalkan beberapa aspek kerja keras teknologis.

[sunting] Ilmu, rekayasa, dan teknologi

Perbedaan antara ilmu, rekayasa, dan teknologi tidaklah selalu jelas. Ilmu adalah penyelidikan bernalar atau pengkajian fenomena, ditujukan untuk menemukan prinsip-prinsip yang melekat di antara unsur-unsur dunia fenomenal dengan membekerjakan teknik-teknik formal seperti metode ilmiah.[13] Teknologi tidak mesti hasil ilmu semata-mata, oleh karena teknologi harus memenuhi persyaratan seperti utilitas, kebergunaan, dan keselamatan.

Rekayasa adalah proses berorientasi tujuan dari perancangan dan pembuatan peralatan dan sistem untuk mengeksploitasi fenomena alam dalam konteks praktis bagi manusia, seringkali (tetapi tidak selalu) menggunakan hasil-hasil dan teknik-teknik dari ilmu. Pengembangan teknologi dapat dilukiskan pada banyak ranah pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah, rekayasa, matematika, linguistika, dan sejarah, guna mencapai suatu hasil yang praktis.

Teknologi seringkali merupakan konsekuensi dari ilmu dan rekayasa — meskipun teknologi sebagai kegiatan manusia seringkali justru mendahului kedua-dua ranah tersebut. Misalnya, ilmu dapat mengkaji aliran elektron di dalam penghantar listrik, dengan menggunakan peralatan dan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Pengetahuan yang baru ditemukan ini kemudian dapat digunakan oleh para insinyur dan teknisi untuk menciptakan peralatan dan mesin-mesin baru, seperti semikonduktor, komputer, dan bentuk-bentuk teknologi tingkat lanjut lainnya. Dalam cara pandang seperti ini, para ilmuwan dan rekayasawan kedua-duanya dapat dipandang sebagai “teknolog”; ketiga-tiga ranah ini seringkali dapat dipandang sebagai satu untuk tujuan penelitian dan referensi.[14]

Hubungan pasti antara ilmu dan teknologi secara khusus telah diperdebatkan oleh para ilmuwan, sejarawan, dan pembuat kebijakan pada penghujung abad ke-20, sebagiannya karena debat dapat mengabarkan pembiayaan ilmu dasar dan ilmu terapan. Dalam kebangkitan setelah Perang Dunia II, misalnya, di Amerika Serikat terdapat anggapan yang meluas bahwa teknologi hanyalah “ilmu terapan” dan untuk mendanai ilmu dasar adalah dengan cara menuai hasil-hasil teknologi pada waktunya. Artikulasi filsafat ini dapat ditemukan secara eksplisit di dalam risalah yang ditulis Vannevar Bush mengenai kebijakan ilmu pascaperang, Science—The Endless Frontier: “Produk-baru, industri baru, dan lebih banyak lapangan kerja memerlukan tambahan pengetahuan sinambung akan hukum-hukum alam… Pengetahuan baru yang esensial ini dapat diperoleh hanya melalui penelitian ilmiah dasar.” Tetapi, pada akhir dasawarsa 1960-an, pandangan ini muncul dilatarbelakangi oleh serangan langsung, memimpin ke arah berbagai inisiatif untuk mendanai ilmu untuk tujuan tertentu (inisiatif-inisiatif ini ditolak oleh komunitas ilmiah). Isu tersebut masih diperdebatkan—meskipun sebagian besar analis menolak model bahwa teknologi hanyalah hasil dari penelitian ilmiah.[15][16]

Sejarah

Perkembangan teknologi berlangsung secara evolutif.[17] Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran dan hasil kebudayaan telah nampak berorientasi menuju bidang teknologi.[17]

Secara etimologis, akar kata teknologi adalah “techne” yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni.[17] Istilah teknologi sendiri untuk pertama kali dipakai oleh Philips pada tahun 1706 dalam sebuah buku berjudul Teknologi: Diskripsi Tentang Seni-Seni, Khususnya Mesin (Technology: A Description Of The Arts, Especially The Mechanical).[17]

Kemajuan

Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah.[18]

Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu :[18]

Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara berkembang.[19]

Di lain pihak suatu kebijaksanaan ‘pintu yang lama sekali terbuka’ terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit.[19]

Referensi

  1. ^ For ex., George Crabb, Universal Technological Dictionary, or Familiar Explanation of the Terms Used in All Arts and Sciences, Containing Definitions Drawn From the Original Writers, (London: Baldwin, Cradock and Joy, 1823), s.v. “technology.”
  2. ^ Julius Adams Stratton and Loretta H. Mannix, Mind and Hand: The Birth of MIT (Cambridge: MIT Press, 2005), 190-92. ISBN 0-262-19524-0.
  3. ^ Eric Schatzberg, “Technik Comes to America: Changing Meanings of Technology Before 1930,” Technology and Culture 47 (July 2006): 486-512.
  4. ^ Read Bain, “Technology and State Government,” American Sociological Review 2 (December 1937): 860.
  5. ^ Donald A. MacKenzie and Judy Wajcman, “Introductory Essay” in The Social Shaping of Technology, 2nd ed. (Buckingham, England : Open University Press, 1999) ISBN 0-335-19913-5.
  6. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama mwdict
  7. ^ Franklin, Ursula. “Real World of Technology”. House of Anansi Press. http://www.anansi.ca/titles.cfm?series_id=4&pub_id=58. Diakses pada 13 Februari 2007. 
  8. ^ “Technology news”. BBC News. http://news.bbc.co.uk/1/hi/technology/default.stm. Diakses pada 17 Februari 2006. 
  9. ^ Stiegler, Bernard (1998). Technics and Time, 1: The Fault of Epimetheus. Stanford University Press. hlm. 17, 82. ISBN 0-8047-3041-3.  Stiegler lebih terkemudian menyatakan bahwa biotechnology (bioteknologi) tidak lagi dapat didefinisikan sebagai “organized inorganic matter”, given that it is, rather, “the reorganization of the organic” (‘zat-zat anorganik yang tersusun rapi’, melainkan ‘penyusunan kembali zat-zat organik’). Stiegler, Bernard (2008). L’avenir du passé: Modernité de l’archéologie. La Découverte. hlm. 23. ISBN 2-7071-5495-4. 
  10. ^ “Industry, Technology and the Global Marketplace: International Patenting Trends in Two New Technology Areas”. Science and Engineering Indicators 2002. National Science Foundation. http://www.nsf.gov/statistics/seind02/c6/c6s5.htm. Diakses pada 7 Mei 2007. 
  11. ^ Borgmann, Albert (2006). “Technology as a Cultural Force: For Alena and Griffin” (fee required). The Canadian Journal of Sociology 31 (3): 351–360. doi:10.1353/cjs.2006.0050. http://muse.jhu.edu/login?uri=/journals/canadian_journal_of_sociology/v031/31.3borgmann.html. Diakses pada 16 Februari 2007. 
  12. ^ Macek, Jakub. “Defining Cyberculture”. http://macek.czechian.net/defining_cyberculture.htm. Diakses pada 25 Mei 2007. 
  13. ^ “Science”. Dictionary.com. http://dictionary.reference.com/browse/science. Diakses pada 17 Februari 2007. 
  14. ^ “Intute: Science, Engineering and Technology”. Intute. http://www.intute.ac.uk/sciences/. Diakses pada 17 Februari 2007. 
  15. ^ Wise, George (1985). “Science and Technology”. Osiris (2nd Series) 1: 229–246 .
  16. ^ Guston, David H. (2000). Between politics and science: Assuring the integrity and productivity of research. New York: Cambridge University Press. ISBN 0-521-65318-5 .
  17. ^ a b c d Imam Sukardi, “Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern”, Tiga Serangkai, 2003, 9796684055, 9789796684052.
  18. ^ a b “Pembangunan Ekonomi, Edisi 9, Jilid 1”, Erlangga, 9790158149, 9789790158146.
  19. ^ a b Isei, “Pemikiran Dan Permasalahan Ekonomi Di Indonesia Dalam Setengah Abad Terakhir 4”, Kanisius, 2005, 979211212X, 9789792112122.

Pranala luar